Cari Berita
Ketua Harian IPSI - Edhy Prabowo

Edhy Prabowo, A Man Behind The Gun

person Oleh:

Garudayaksa.com, Jakarta - Hari itu, Senin 27 Agustus 2018, jarum jam menunjukkan pukul 09.34 WIB. Suasana di Padepokan Pencak Silat Taman Mini begitu gaduh. Maklum, Tim Pencak Silat Indonesia baru saja meraih medali emas perdana di kejuaraan Asian Games. Pesilat Puspa Arumsari didaulat sebagai pemenang dalam kategori tunggal putri.

Lagu Kebangsaan Indonesia Raya pun berkumandang dengan suasana hikmad penuh haru. Air mata tak terasa menetes lihat Sang Merah Putih berada di posisi teratas saat dikerek tim Paskibra. Tepuk tangan dan teriakan serentak "In... Do... Ne... Sia...!" terus bergelora.

Di sudut lain, seorang lelaki berbadan tegap dibalut jaket merah nampak tak kuasa menahan rasa bahagia. Matanya berkaca-kaca, raut wajahnya memerah dan terus berteriak hingga urat di leher dan keningnya terlihat. Lelaki itu bernama Edhy Prabowo, sang manager tim nasional pencak silat Indonesia.

Edhy barangkali menjadi orang yang paling berbahagia di hari itu. Pasalnya, dia menanggung beban yang tidak mudah. Ditugaskan khusus oleh Ketua Umum IPSI, Prabowo Subianto, untuk mengharumkan nama Bangsa di Asian Games, serta ditarget empat medali emas oleh pemerintah.

Di saat bersamaan pula, Edhy harus tetap fokus menjalani tugas sebagai Ketua Komisi IV DPR yang membidangi pangan dan pertanian, menjalani peran sebagai Ketua Fraksi Gerindra dan menjalani tugas sebagai Wakil Ketua Umum Partai yang tengah sibuk menghadapi Pileg dan Pilpres. Edhy terpaksa menunda sidang doktor-nya guna kepentingan yang jauh lebih besar.

Saya menjadi saksi, Edhy begitu all out menghadapi Asian Games kali ini. Hampir 24 jam energi dan pikirannya terfokus kepada timnas pencak silat. Bahkan lelaki kelahiran Muara Enim 46 tahun silam ini harus mengasingkan diri sejenak dari hingar bingar berita politik, di saat semua orang justru sedang gemar membahasnya.

Dalam satu kesempatan, saya tidak melihat wajah Edhy ketika para petinggi partai berkumpul membahas perkembangan politik di Rumah Kartanegara. Saya telepon dia dan bertanya, "Abang dimana? Ga ikut rapat?". Dia menjawab, "Gua lagi nemenin anak-anak silat makan malam di luar dulu," jawab dia.

Bahkan ketika satu hari menjelang deklarasi capres-cawapres, dia masih belum nampak juga wajahnya. Ternyata saat itu dia sedang berada di toko olahraga menemani para atlet membeli sepatu buat latihan. Alasannya, dia ingin motivasi para atlet tetap terjaga.

Sebelum menjalani aktivitas sebagai legislator, dia seringkali meninggalkan rumah lebih pagi untuk memantau pelatnas di Padepokan Taman Mini. Bila dirasa aman tak ada kendala, dia baru menuju Senayan untuk memimpin rapat, mengkaji setumpuk berkas, mempelajari tugas kuliah, dan menemui para tamu dengan berbagai urusan.

Malam hari, kadang dia ngajak ngobrol dan diskusi. Wajahnya tampak kusam menahan lelah, matanya merah karena kurang tidur, dan mulutnya tak henti-henti menguap. Dia seperti memyembunyikan keletihan. Pagi harinya, dia harus kembali  lagi ke padepokan di Taman Mini. "Silat harus juara. Itu tugas dari Pak Prabowo," tegas dia.

Hanya sedikit orang tahu, dua hari jelang pembukaan pertandingan pencak silat, Edhy harus terbaring seharian dan menjalani perawatan di RSPAD Gatot Subroto. Meski disarankan rehat, dia memilih pulang malam harinya. Dia ingin memastikan persiapan acara pembukaan pencak silat berjalan lancar,  dan ingin berada di tengah para atlet saat pertandingan digelar.

Edhy memiliki peran sangat sentral di tim pencak silat. Selain sebagai motivator dia juga menjadi tempat curhat. Edhy sang kakak asuh para atlet yang tugasnya cukup berat. Risikonya dia harus datang lebih pagi dan pulang paling malam setiap pertandingan dihelat. Wajar bila para juara silat memeluk Edhy sangat erat hingga menitikan air mata, karena mereka memiliki ikatan emosi yang sangat kuat.

Ada satu momen saat pesilat Iqbal Candra Pratama tertinggal poin ketika berlaga di partai final melawan pesilat Vietnam, Ngoc Toan Nguyen. Banyak yang menyangka Indonesia akan kalah di kelas ini. Iqbal mendapat lawan yang tidak mudah.

Edhy yang tadinya duduk tenang seketika berdiri dan terus berteriak ke arah Iqbal memberi motivasi dengan suara serak yang tersisa. Sesekali dia kompori para penonton untuk terus berteriak mendukung Iqbal. Kondisi berubah di babak akhir. Iqbal berhasil mengubah keadaan hingga akhirnya dinobatkan sebagai juara.

Ya, kita semua bergembira. tim pencak silat berhasil menyapu bersih gelar juara tanpa sisa. Mereka yang hadir di padepokan menjadi saksi mata. Dalam satu hari, delapan kali kita berdiri menyanyikan lagu Indonesia Raya. Persis seperti latihan upacara.

Keberhasilan pencak silat tercipta karena atlet bisa tampil sempurna, dewan guru dan tim pelatih gigih dalam membina, serta para suporter tak pernah berhenti berdoa dan bersuara. Serta banyak pihak yang berperan sesuai dengan bidang dan keahliannya masing-masing.

Namun, dari semua nama yang terlibat dalam kemenangan, ada dua sosok yang sangat penting dalam berperan. Prabowo Subianto dan Edhy Prabowo. Prabowo berkorban banyak hal agar pencak silat mampu meraih prestasi dan menjaga kehormatan, sementara Edhy yang mengimplementasi dan menularkan semangat perjuangan di lapangan. Kolaborasi antara guru dan murid.

"Pak Prabowo selalu berpesan, dalam memperjuangkan Merah Putih, tidak boleh ada ruang untuk perasaan pribadi. Semoga di enam laga sisa tanggal 29 besok, kita bisa memberikan yang terbaik untuk Indonesia," kata Edhy tadi malam.

 

folder_openAssigned tags

Komentar