Cari Berita
TB Ardi Juniar

Prabowo VS "Stuntman" Jokowi

person access_timeJumat 24 Agustus 2018 | 13:28 WIB

Garudayaksa.com, Jakarta -

*Tb Ardi Januar

Pertarungan Prabowo Subianto melawan Joko Widodo akan kembali terulang di Pemilihan Presiden 2019 nanti. Bedanya, Jokowi muncul sebagai calon petahana yang sedang berkuasa.

Perjuangan Prabowo yang nanti berpasangan dengan Sandiaga Uno dirasa tidak akan mudah. Sebab selain menghadapi Jokowi, Prabowo-Sandi juga harus melawan para stuntman. Stuntman yang saya maksud di sini bukan sekadar pemeran pengganti, tetapi juga mereka-mereka yang bekerja memuluskan langkah Jokowi dengan berbagai peran. Siapa saja para stuntman Jokowi tersebut?

Stuntman pertama adalah pejabat negara terutama para menteri. Sebagai pemegang kekuasaan, Jokowi sangat berpotensi menggunakan kekuasaannya untuk memenangkan pilpres. Lihat saja, sejumlah menteri secara terang-terangan sudah berkampanye ke tengah masyarakat untuk Jokowi. Secara kasat mata mereka menggunakan jabatan dan anggaran negara demi kepentingan golongan.

Menteri Sosial Idrus Marham misalnya. Jelang pemilu nanti dia akan menambahkan dana bantuan sosial (bansos) hingga 100 persen. Dia berharap, langkahnya tersebut dapat mendongkrak elektabilitas Jokowi dan masyarakat bisa memilih Jokowi kembali. Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo juga pernah berkampanye Jokowi dua periode di hadapan ribuan kepala desa.

Menteri Luhut juga kedapatan berkampanye untuk Jokowi saat menghadiri sebuah acara. Atas nama Kementerian Maritim, dia presentasi tentang "Dampak Positif Pemilihan KH Ma'ruf Amin sebagai Cawapres Jokowi". Apa hubungannya coba?

Bahkan, secara terbuka kepada media massa, Jokowi meminta TNI dan Polri untuk menyosialisasikan kinerja pemerintah. Aparat yang seharusnya netral didorong untuk menjadi juru kampanye alias jurkam.

Stuntman kedua adalah media massa. Sudah kita ketahui bersama bahwa pencitraan Jokowi selama ini tak luput dari peran media massa. Bahkan, dua ketua umum partai politik pendukung Jokowi saat ini adalah raja media. Mereka adalah Surya Paloh dan Hari Tanoe. Jokowi seakan bebas berkampanye di media milik mereka tanpa dipungut biaya.

Bahkan, direktur pemenangan Jokowi yang menangani bidang media saat ini adalah seorang pemimpin redaksi stasiun televisi dan juga ketua umum organisasi jurnalis televisi. UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers tak mereka hiraukan. Kode Etik Pers tentang independensi jurnalis juga diabaikan. Pemandangan tak menyenangkan bagi teman-teman wartawan yang selama ini kerja beneran.

Stuntman ketiga adalah lembaga survei. Belum lama ini publik disuguhkan berita pemaparan salah satu lembaga survei tentang tingkat elektabilitas Prabowo dan Jokowi. Hasilnya mereka nyatakan Jokowi sebagai pemenang dengan angka signifikan. Mereka tidak menjelaskan siapa yang mereka wawancara dan siapa yang mendanai survei mereka.

Bagaimana masyarakat harus percaya dengan hasil riset mereka, sedangkan pada Pilgub DKI Jakarta 2017 lalu saja lembaga ini memprediksi Anies Baswedan akan tersingkir dari pertarungan. Belum lagi hasil survei mereka tentang Pilgub Jawa Barat lalu yang errornya mencapai 300 persen bila dibandingkan hasil real count. Lembaga ini melawan nalar publik.

Stuntman keempat adalah pengamat politik. Kita semua sudah sama-sama tahu dari sekian banyak pengamat politik, tak sedikit oknum yang nyambi menjadi konsultan dan tim sukses. Mereka tidak masuk struktur di tim pemenangan, tapi mereka bekerja layaknya juru bicara tim sukses.

Dengan kedok intelektual, mereka terus mempromosikan Jokowi sembari mendowngrade Prabowo dan Sandi dengan opini yang maksa. Tanpa diwawancara media massa, biasanya mereka "nyanyi" sendiri berharap dikutip jadi berita. Tentu tidak semua pengamat politik seperti ini. Masih banyak juga pengamat atau akademisi yang lurus dan objektif dalam berkomentar.

Stuntman kelima adalah para buzzer yang beroperasi di dunia maya. Dengan berbekal banyak akun anonim mereka bertugas menghiasi sosial media. Mereka memproduksi artikel provokatif, berita hoax, meme menghina, video editan dan lain sebagainya. Bahkan seringkali kita melihat kata-kata mereka seragam meski akun-nya berbeda. Tak perlu heran, karena mereka memang robot. Foto profilnya kerap gambar cewek cantik, padahal operatornya bisa saja lelaki dekil.

Prabowo dan Sandi kerap menjadi korban dari operasi ini. Dan sampai sekarang, tidak ada satu pun yang diproses secara hukum oleh polisi. Beda nasib kalau yang diserang Jokowi. Akun kita bisa mati atau penjara menanti. Seperti yang dialami ibu rumah tangga bernama Asma Dewi.

Itulah kelima stuntman yang diprediksi akan dikerahkan untuk memenangkan Jokowi dalam pertempuran nanti. Sejak kemarin, gelagat ini sudah terlihat secara terang benderang. Bisa jadi, semakin mendekati hari pemilihan para stuntman ini akan semakin telanjang menjalankan peran.

Tapi tak perlu khawatir. Publik saat ini sudah semakin cerdas. Jangan menghina masyarakat seolah mereka tak tahu apa yang terjadi. Seribu cara dilakukan dan sejuta strategi dilancarkan, pada akhirnya tak akan mampu mengubah keputusan. Mengapa? Karena selain punya otak, manusia juga punya nurani. Itulah sebabnya gerakan 2019 ganti presiden semakin hari kian menyebar dan membesar.

Di akhir catatan, saya berharap semoga penyelenggara pemilu baik itu KPU maupun Bawaslu hingga tingkat TPS nanti tetap bersikap netral, menjaga sumpah, menjunjung tinggi integritas dan mengutamakan kejujuran. Jangan sampai ikut-ikutan menjadi stuntman.

Oh iya lupa. Ada satu lagi stuntman yang belum diulas, namanya Farhat Abbas. Tapi saya malas bahas. Perut suka mendadak mulas.

Sekian...

folder_openAssigned tags

Komentar