Cari Berita
Ketua Umum Gerindra - Prabowo Subianto

Gerindra (Sedang) Naik Kelas

person access_timeJumat 12 Januari 2018 | 11:10 WIB

Garudayaksa.com, Jakarta - Bicara tentang politik tahun 2017 menjadi tahunnya Partai Gerindra. Meski menjadi oposisi, Gerindra mampu mempertahankan eksistensi dan memenangkan sederet kompetisi. Hal yang paling berasa adalah ketika partai ini mampu menumbangkan Basuki dan memenangkan Anies-Sandi di Pilgub DKI.

Di Senayan, Gerindra juga berhasil menjadi fraksi yang menawan. Sikap politiknya kerap menghiasi konten pemberitaan. Gerindra berhasil menjadi telinga dan mulut rakyat meski harus berhadapan dengan kekuasaan. Keras menolak UU Ormas disahkan dan konsisten membela KPK agar tidak dilemahkan.

Sikap konsistensi Gerindra menuai puja-puji yang berdampak elektabilitas menjadi tinggi. Riset survei mendominasi dan hasil polling kerap menjuarai. Gelombang dukungan tak bisa dibendung lagi. Gerindra seakan menjadi pilihan rakyat dalam pemilu nanti.

Namun pepatah lawas berkata, semakin tinggi pohon akan semakin kencang anginnya. Gerindra diuji dengan berbagai isu dan berita. Fitnah dan pembusukan melanda. Ternyata ada yang tak suka melihat Gerindra di ambang juara.

Kemarin muncul berita Basuki menceraikan Veronica. Perselingkuhan dituding menjadi pemicunya. Veronica main gila saat suami di penjara. Namun entah darimana asalnya Gerindra dibawa-bawa. Pacar rahasia Veronica diisukan kader Gerindra. Julianto Tio namanya. Padahal tak ada satu pun petinggi Gerindra yang mengenalnya.

Kemarin juga muncul kabar mengejutkan. Azwar Anas mundur dari pencalonan. Foto seronok menjadi pemicu dia balik kanan dari pertempuran. Gerindra kembali dikait-kaitkan. Dihembuskan isu miring bahwa salah satu istri kader Gerindra ikut berperan. Padahal Gerindra sama sekali tidak memiliki kepentingan. Terlebih cara yang dilakukan bertentangan dengan nilai-nilai perjuangan.

Tak cukup di situ, Gerindra kembali diterpa ujian. Kali ini datang dari seseorang yang ingin memburu kekuasaan tapi gagal menyusun kekuatan. Dia menuding Gerindra mata duitan. Dia mengaku dipalak miliaran. Bermodal amarah mereka membuat kegaduhan.

Sayang segala tuduhan dimentahkan hanya dalam satu hari. Ridwan Kamil bersaksi, Sudrajat bersaksi, begitu juga dengan Edy Rahmayadi. Secara tegas mereka katakan, Gerindra tak pernah meminta mahar untuk menghadapi kompetisi demokrasi. Sudirman Said, Anies-Sandi hingga Jokowi-Basuki juga layak dijadikan bukti. Gerindra bukan partai yang doyan melelang kursi.

Gerindra pernah mengusulkan kepala daerah dipilih DPRD saja. Gerindra sangat keras bersuara president treshold 0 persen saja. Semua itu dilakukan demi mengikis transaksi politik uang yang kian menggila. Belum lagi intervensi dari pihak ketiga yang memiliki sederet agenda. Sayang Gerindra kalah suara. Padahal itu amanat dari Pancasila dan UUD 45.

Ya, untuk kesekian kalinya Gerindra sedang diuji. Tak perlu baper menyikapi semua ini. Apa yang sedang terjadi adalah jalan untuk menuju posisi yang lebih tinggi. Jadikan ini sebagai momen evaluasi. Jadikan ini sebagai ajang konsolidasi. Satukan tekad dan kuatkan hati. Kemenangan tinggal menunggu hari.

Di akhir catatan, saya hanya ingin mengutip butir terakhir dari naskah "Ikrar Kader Partai Gerindra", yang rasanya harus kita resapi sepenuh hati dan kita jalani untuk menghadapi segala fenomena politik saat ini.

"Tunduk dan patuh kepada ideologi dan disiplin partai, serta menjaga kehormatan, martabat dan kekompakan partai..."

Semakin Gerindra diuji, yakinlah Gerindra akan semakin terbang tinggi.

Salam Indonesia Raya...!

* Penulis Tb. Ardi Januar adalah kader biasa Partai Gerindra

 

folder_openAssigned tags

Komentar