Cari Berita
Ketua Komisi VII DPR RI - Gus Irawan Pasaribu

Gerindra : Ekonomi Indonesia di Tahun 2018 Dalam Pesimisme

person access_timeJumat 29 Desember 2017 | 09:03 WIB

Garudayaksa.com,  Jakarta – Ketua Komisi VII DPR RI, Gus Irawan Pasaribu mengatkakan, bahwa Ekonomi Indonesia tahun depan diprediksi tidak akan lebih baik dari kondisi sekarang, karena diliputi pesismisme atas melesetnya sejumlah target pemerintah.

Dia menyimpulkan ekonomi Indonesia tahun depan tidak akan lebih baik dari tahun ini didasarkan pada berbagai faktor dan asumsi yang terjadi. “Pertama harus kita lihat fundamental ekonomi Indonesia masih lemah sekali. Belanja pemerintah untuk infrastruktur yang jor-joran ternyata tidak ngefek pada pertumbuhan ekonomi,” jelasnya kepada Garudayaksa.com

Menurutnya, jika pemerintah memicu pembangunan infrastruktur harusnya ada penguatan pada pertumbuhan ekonomi. Namun faktanya tidak, kata dia. “Kita harus lihat bahwa setiap kali ada pembangunan baik itu bagian dari government expenditure atau pun investasi swasta harus mendorong pertumbuhan.”

Jika itu tidak terjadi berarti ada yang salah dengan konsep yang dijalankan pemerintah, jelasnya. “Dengan begitu bisa saya katakan fundamental ekonomi kita tidak kuat,” tuturnya. Memang, kata dia, harus diakui bahwa pemerintah kelihatan sangat gencar membangun infrastruktur. “Termasuk jalan tol dimana-mana, peningkatan kualitas bandara di berbagai daerah, pembangunan rel kereta api, meningkatkan mobilitas barang dan jasa. Namun pertumbuhan kita kalau pun tercapai hanya di angka 5,2 persen. Tahun depan proyeksinya 5,4 persen,” ungkap Anggota DPR RI dapil Sumut II.

Secara teori,  jelas Gus Irawan lagi, infrastruktur dapat mempercepat aktivitas ekonomi dan meningkatkan pertumbuhan, namun kenyataannya tidak begitu.  “Saya ambil data dari pusat kajian LPEM FEB UI, saat alokasi anggaran infrastruktur di 2017 meningkat 177 persen dari anggaran 2014, pertumbuhan ekonomi di 2017 hanya meningkat sedikit.”

Menurut kajian itu, jelas Gus Irawan, penciptaan lapangan kerja yang disebut-sebut sebagai dampak positif yang timbul dari belanja infrastruktur dan konstruksi juga belum terlihat. “Rendahnya investasi sektor swasta, baik di sektor infrastruktur maupun sektor lainnya, akibat dominannya peran perusahaan milik negara, membuat pertumbuhan investasi secara keseluruhan tidak maksimal.  Hal ini dapat berdampak negatif pada pencapaian target pertumbuhan ekonomi selama sisa pemerintahan Jokowi.

Atas dasar itu Gus Irawan beranggapan pembangunan yang dilakukan tidak berdampak maksimal pada pertumbuhan. “Kemudian program ekonomi Indonesia dengan membuat paket yang berjilid jilid dan disusun tahun demi tahun sama sekali tidak bermakna. Saya heran juga dengan paket kebijakan ekonomi, tutup Ketua DPD Gerindra Provinsi Sumatera Utara ini.

 

folder_openAssigned tags

Komentar